B Penelitian Relevan Temuan penelitian sebelumnya yang relevan, dapat diambil dari Jurnal hasil penelitian ilmiah C. Hipotesis Tindakan Rumusan hipotesis tindakan berdasarkan pada cara memecahkan masalah dalam PTK. Contoh hipotesis: Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam Berdasarkanpermasalahan tersebut para tenaga pendidik dapat melakukan analisis dan identifikasi masalah yang terdiri dari topik pembelajaran, bentuk permasalahan dan akar masalah pembelajaran. ContohCara Menulis Latar Belakang Masalah. 1. Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti. Penguasaan keterampilan matematis adalah suatu keterampilan prasyarat yang mutlak harus dimiliki oleh siswa saat mempelajari materi IPA Fisika. Keterampilan matematis yang baik akan membawa siswa menjadi pebelajar yang MasalahPTK terkait dengan proses pembelajaran yang pada gilirannya menyebabkan perubahan perilaku guru, mitra penelitian dan siswa. Contoh soal PTK: 1. Metode pengajaran, mungkin menggantikan metode tradisional dengan metode penemuan; 2. Strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu bukan gaya belajar mengajar; 3. ModelPembelajaran Kontekstual (contekstual teaching and learning) adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari.4 3. Peningkatan adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan sebuah usaha, kegiatan, dan sebagainya.5 4. DownloadGratis Contoh PTK SD Kelas 4 IPA Sudah Jadi Langsung Pakai. Kami persilahkan anda untuk mengunduhnya melalui daftar list berikut : Baca juga : Contoh Proposal PTK SD Untuk Semua Mata Pelajaran. Contoh PTK SD Lengkap Semua Kelas dan Mata Pelajaran. Sebagai referensi pembuatan judul, kami rekomendasikan anda mengunjungi 141 Judul PTK . Penelitian Tindakan Kelas PTK adalah penyelidikan secara sistematis dengan tujuan menginformasikan praktik pembelajaran dalam situasi tertentu. PTK juga merupakan suatu cara bagi guru untuk menemukan apa yang terbaik di dalam situasi kelas mereka sendiri sehingga keputusan tentang proses pembelajaran dapat diambil dengan sebaik-baiknya. PTK merupakan titik tengah antara refleksi guru dan penelitian pendidikan tradisional. Ini disebabkan PTK lebih sistematis dan berbasis data dibandingkan dengan sekadar refleksi pembelajaran, tetapi lebih sedikit formal dan terkendalikan dibandingkan penelitian pendidikan tradisional. Dalam PTK, guru-guru menggunakan data yang tersedia dari kelas-kelas mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis tentang pembelajaran yang mereka laksanakan. Selanjutnya, PTK mengintegrasikan dua peran sekaligus yaitu antara ilmu pengetahuan penelitian dengan praktik pembelajaran. Pembahasan ini untuk membantu para guru memahami konseptual teoretis sampai dengan aplikasi praktiknya tentang PTK, sebagai rujukan dalam rangka pengembangan profesi pendidik untuk menguasai kompetensi profesional tentang PTK tersebut. Oleh karena itu, uraian dan paparan PTK ini menawarkan berbagai pemikiran yang dimulai dari konseptual teoretis terus menuju ke aplikasi praktik agar memudahkan para guru/pendidik melaksanakannya di sekolah sebagai upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran nyata di kelas. Pengertian PTK Menurut Para Ahli Dalam istilah aslinya, Penelitian Tindakan Kelas disebut dengan Classroom Action Research. Apakah sesungguhnya definisi Penelitian Tindakan Kelas itu?” Ada beberapa definisi penelitian tindakan kelas yang dapat diajukan di sini. Suharsimi 20072 mendefinisikan penelitian tindakan kelas melalui paparan gabungan definisi dari kata “penelitian,” “tindakan”, dan “kelas.” Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama oleh guru. Jadi, Suharsimi 2007 13 berkesimpulan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Suhardjono 200758 mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Rustam dan Mundilarto 2004 1 mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Tim PGSM 1999 mendefinisikan penelitian tindakan kelas merupakan kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, ditujukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki praktik pembelajaran yang diselenggarakan. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur atau siklik. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Suhardjono 2007 262 mengajukan beberapa karakteristik penelitian tindakan kelas, yaitu adanya tindakan action. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami bukan dalam laboratorium dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan praktis. Tindakan tersebut merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. Penelitian tindakan kelas merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru tumbuhnya sikap profesional dalam diri guru karena penelitian tindakan kelas mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan. hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoritis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kalimat lain, penelitian tindakan kelas berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis atau bersifat bebas konteks. penelitian tindakan kelas dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata,jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. adanya kolaborasi kerjasama antara praktisi guru, kepala sekolah, siswa, dan lain lain dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan action. di samping itu, penelitian tindakan kelas dilakukan hanya apabila ada a keputusan kelompok dan komitmen untuk pengembangan, b bertuj uan meningkatkan profesionalisme guru, c alasan pokok ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan, dan d bertujuan memperoleh pengetahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah. Mencermati uraian dan ilustrasi di atas, sesungguhnya dapat dikemukakan beberapa karakteristik inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu masalah berasal dari guru; tujuannya memperbaiki pembelajaran; metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah kaidah penelitian; fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran; guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti. Pertanyaan penting berikutnya adalah “Apa tujuan melakukan penelitian tindakan kelas?” Mengacu pada pembahasan sebelumnya, maka jawaban yang paling inti adalah untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Dalam konteks tujuan penelitian tindakan kelas ini, secara rinci Suhardjono 2007161 mengemukakan sebagai berikut meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah; membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas; meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan; menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan sustainable. Mengacu kepada tujuan penelitian tindakan kelas tersebut, maka luaran atau hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas mencakup perbaikan dan peningkatan kualitas kinerja belajar siswa; perbaikan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas; perbaikan dan peningkatan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, alat peraga, dan sumber belajar lainnya; perbaikan dan peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses pembelajaran dan hasil siswa; perbaikan dan peningkatan kualitas upaya-upaya pemecahan masalah masalah pendidikan anak di sekolah; perbaikan dan peningkatan kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas Dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas sesungguhnya banyak manfaat yang bisa diperoleh. Manfaat itu antara lain dapat dikaji dari beberapa pembelajaran di kelas. Manfaat yang terkait dengan komponen pembelajaran antara lain meliputi inovasi pembelajaran; pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas; peningkatan profesionalisme guru. Secara ringkas pada dasarnya penelitian tindakan kelas memiliki manfaat sebagai berikut membantu guru memperbaiki kualitas pembelajarannya; meningkatkan profesionalitas guru; meningkatkan rasa percaya diri guru; memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Panduan Penyusunan Usulan PTK Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah guru yang akan melakukan PTK, maka berikut ini disajikan format dan sistematika usulan PTK. Format dan sistematika usulan PTK ini mengacu kepada pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Adapun format dan sistematika usulan PTK adalah sebagai berikut. 1. Latar Belakang Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain melalui peningkatan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah masalah pembelajaran dan non pembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali. Upaya meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya untuk menyelesaikan masalah masalah yang dihadapi saat menjalankan tugasnya akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan yang nyata akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pendidikan dan pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar. Dan ketiga, peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara pada peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Upaya peningkatan kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan research development dissemination RDD. Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat top down dan bersifat teoritis akademik. Paradigma demikian dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan pemikiran baru, khususnya Manajemen Mutu Berbasis Sekolah MMBS. Pendekatan MMBS menitikberatkan pada upaya perbaikan mutu yang inisiatifnya berasal dari motivasi internal pendidik dan tenaga kependidikan itu sendiri an effort to internally initiate endeavors for quality improvement, dan bersifat pragmatis naturalistik. MMBS mengisyaratkan pula adanya kemitraan antar jenjang dan jenis pendidikan, baik yang bersifat praktis maupun dalam tataran konsep. Kebutuhan akan kemitraan yang sehat dan produktif, yang dikembangkan atas prinsip kesetaraan di antara pihak pihak terkait sudah sangat mendesak. Kemitraan yang sehat antara LPTK dan sekolah adalah sesuatu yang penting, lebih lebih lagi dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Penelitian pun hendaknya dikelola berdasarkan atas dasar kemitraan yang sehat kolaboratif, sehingga kedua belah pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik reciprocity of benefits. Melalui Penelitian Berbasis Tindakan PBT masalah masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pendidikan, dapat diaktualisasikan secara sistematis. Upaya PBT diharapkan dapat menciptakan sebuah budaya belajar di kalangan guru guru di sekolah. 2. Tujuan PTK memiliki sejumlah tujuan sebagai berikut. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan. Menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan sustainable. Meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan penelitian berbasis tindakan PBT. Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dengan dosen di perguruan tinggi kependidikan. 3. Bidang Kajian Penelitian Adapun ruang lingkup bidang kajian PTK oleh guru meliputi masalah belajar siswa sekolah termasuk di dalam tema ini, antara lain masalah belajar di kelas, kesalahan kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, dan sebagainya. desain dan strategi pembelajaran di kelas termasuk dalam tema ini, antara lain masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, dan sebagainya. alat bantu, media, dan sumber belajar termasuk dalam tema ini, antara lain masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, dan sebagainya. sistem evaluasi termasuk dalam tema ini, antara lain masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi, dan sebagainya. masalah kurikulum termasuk dalam tema ini, antara lain masalah implementasi KTSP, interaksi guru siswa, siswa bahan belajar, dan lingkungan pembelajaran, dan sebagainya. 4. Luaran Penelitian Luaran yang diharapkan dihasilkan dari PTK adalah sebuah peningkatan atau perbaikan, antara lain peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah; peningkatan atau perbaikan terhadap mutu proses pembelajaran di kelas; peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainnya; peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa; peningkatan atau perbaikan terhadap masalah masalah pendidikan anak di sekolah; peningkatan dan perbaikan terhadap kualitas penerapan KTSP dan kompetensi siswa di sekolah. 5. Pengusul Penelitian Pengusul penelitian adalah semua guru SD,SMP, SMA, SMK, baik yang bertugas di sekolah negeri maupun swasta, baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan dosen perguruan tinggi kependidikan. Masalah penelitian harus digali atau didiagnosis secara sistematis dari masalah yang nyata dihadapi oleh guru dan/atau siswa di sekolah. Masalah penelitian bukan dihasilkan dari kajian akademik atau dari hasil penelitian terdahulu semata mata. Penelitian ini bersifat kolaboratif, dalam pengertian usulan harus secara jelas menggambarkan peranan dan intensitas masing masing anggota peneliti pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan. 6. Kriteria Penilaian Kualitas Usulan Penelitian Aspek-aspek yang dinilai untuk menentukan kualitas usulan PTK setidaknya memenuhi kriteria sebagai berikut. Perumusan masalah terutama asal dan keaslian, relevansi, dan cakupan permasalahan dengan bobot penilaian sebesar 25. Cara pemecahan masalah terutama rancangan tindakan dan kontekstualitas tindakan dengan bobot penilaian sebesar 25. Kemanfaatan hasil penelitian terutama potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan dengan bobot penilaian sebesar 10. Prosedur penelitian terutama prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi setelah hasil dengan bobot penilaian sebesar 30. Kegiatan pendukung terutama jadwal penelitian, sarana pendukung pembelajaran yang digunakan, rincian tugas dan intensitas keterlibatan masing masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian, dan kelayakan pembiayaan dengan bobot penilaian sebesar 10. Contoh sampul cover usulan PTK Contoh halaman pengesahan usulan PTK Sistematika Usulan PTK A. Judul Penelitian Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi B. Bidang Ilmu Tuliskan bidang ilmu ketua peneliti berdasarkan mata pelajaran yang diajar di sekolah. Masalah yang yang diteliti harus relevan dengan mata pelajaran yang diajar di sekolah. Jika tidak, maka akan menjadi kendala untuk diterimanya penelitian tersebut. C. Pendahuluan Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di sekolah dan diagnosis oleh guru dan/atau tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan sena dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut. Setelah didiagnosis dan diidentifikasi masalah penelitiannya, maka selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut. Penting juga digambarkan situasi kolaboratif antar anggota peneliti dalam mencari masalah dan akar penyebab munculnya masalah tersebut. Selain itu, prosedur dan alat yang di gunakan dalam melakukan identifikasi permasalahan dan penyebabnya perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis. D. Perumusan Masalah Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan PTK. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi. E. Cara Pemecahan Masalah Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti sesuai dengan kaidah PTK. Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan action yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik. F. Tinjauan Pustaka Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang memunculkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau kerangka konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan. G. Tujuan Penelitian Kemukakan secara singkat tentang tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan penelitian ini dijabarkan ke dalam Tujuan Umum dan Tujuan Khusus yang diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya. H. Kontribusi Sumbangan Hasil Penelitian Uraikan kontribusi sumbangan hasil penelitian yang akan dilakukan terhadap kualitas pembelajaran dan/atau pendidikan, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan lainnya di sekolah. Kemukakan inovasi atau pembaharuan yang akan dihasilkan dari penelitian ini. I. Metode Penelitian Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan objek, waktu pelaksanaan dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci sesuai dengan langkah-langkah PTK, yaitu dari perencanaan tindakan observasi refleksi yang bersifat daur ulang atau siklus. Tunjukkan siklus siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus minimal dua siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah cawu/semester. J. Jadwal Penelitian Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan. K. Personalia Penelitian Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang, yang terdiri dari 1 orang ketua peneliti dan 2 orang anggota peneliti. Namun demikian, PTK ini dapat juga dilakukan sendirian oleh satu orang guru saja. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan. L. Daftar Pustaka Tulislah daftar pustaka secara konsisten dengan mengikuti model APA, MLA atau Turabian dan diketik satu spasi. Berikut ini contoh penulisan daftar pustaka a. Contoh Daftar Pustaka dari Buku Anderson, and Krathwohl, DR. 2001. A Taxonomyfor Learning, Teaching, and Assessing. New York Longman. Austin, and Baldwin, R. G. 1991, Faculty Collaboration Enhancing The Qualirv of Scholarship and Teaching. Washington The George Washington University. Belanoff, P. and Dickson, M. 1999. Porto Folios Process and Product. Portsmouth Boynton/Cook. M. Asrori 2005. Perkembangan Peserta Didik. Malang Wineka Media. b. Contoh Daftar Pustaka dari Buku Brown, Collins, A.; and Duguid, P. 1989. “Situated Cognition and the Culture of Learning.” Educational Researcher 181, 32-42. Clark, C. 1996. “Colaboration as Dialogue Teacher and Researchers Engaged in Conversation and Professional Development.” American Educational Research Journal, 33, 1, 193-231. Elvey, M. I 996. “The Theory and Practice of Action Research Changing Education.” A Journalfor Teachers and Administrations. 3, 6, 5-14. M. Asrori 2006. “Remaja Terlalu Kecil untuk Serbet, Terlalu Kecil untuk Taplak.” Majalah Amanah, Nomor 33. M . Lampiran-lampiran Lampirkanlah riwayat hidup ketua peneliti dan anggota peneliti cantumkan pengalaman penelitian yang relevan yang telah dihasilkan sampai saat ini. Sistematika Laporan PTK Setelah dipaparkan Sistematika Usulan PTK beserta contohnya, maka untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah guru dalam menyusun laporan, berikut ini diuraikan Sistematika Laporan PTK beserta contohnya. Laporan PTK Penelitian Tindakan Kelas, sistematikanya meliputi unsur-unsur berikut. Lembar Sampul cover Laporan Penelitian Lembar Identitas dan Pengesahan Abstrak Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar jika dalam laporannya ada gambar gambar Daftar Lampiran Pendahuluan Kajian Pustaka Pelaksanaan Penelitian Hasil Penelitian dan Pembahasan Simpulan dan Saran saran Daftar Pustaka Pada halaman-halaman berikut ini diuraikan masing-masing unsur tersebut agar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas bagi para guru yang membuat laporan hasil PTK yang telah dilakukan. Contoh sampul cover laporan akhir PTK Contoh halaman pengesahan usulan PTK Contoh Ringkasan PTK Untuk membantu meningkatkan pemahaman tentang PTK, berikut ini disajikan beberapa ringkasan penelitian tindakan dan ringkasan sebuah laporan penelitian yang diterjemahkan dari Kemmis dan Mc Taggart1988. Berikut ini ringkasan beberapa contoh PTK yang di lakukan oleh guru yang diambil dari Kemmis dan Taggan 1988 dan dua ringkasan penelitian yang dilakukan di SMA Pontianak. Seorang guru wanita yang tertarik pada persoalan jenis kelamin dalam kelasnya bertanya kepada seorang teman sejawat yang terpercaya untuk mencatat siapa yang diajaknya berbicara. Dia menemukan bahwa dalam waktu setengah jam teman sejawat tersebut berbicara dua kali lipat dengan anak laki laki dibandingkan dengan anak perempuan. Dia mengubah pada ini, tetapi hanya secara perlahan lahan. Dia harus membantu siswa siswa itu sendiri mengubah harapan-harapannya dan kepekaan mereka terhadap masalah jenis kelamin dalam kelas. Seorang guru Fisika kelas 3 SMA yang tertarik kepada pemahaman siswa di kelas menemukan bahwa dengan mengajukan pertanyaan berani memberikan sedikit kesempatan kepada siswa untuk membicarakan gagasan dan pemahaman mereka. Dia mengubah gaya interaksinya dengan cara yang dramatis. sehingga dia mengurangi waktu yang digunakan untuk berbicara di kelas dari sekitar 85% menjadi 40% dalam satu mata pelajaran, kemudian menemukan bahwa dia harus mengubah jenis pertanyaan yang diajukan agar siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan pemahamannya dengan menggunakannya dalam diskusi yang lebih rumit dengan guru dan siswa siswi lainnya. Seorang guru mempunyai masalah dengan kelompok kelas 3 SMP yang sulit dikendalikan. Dia merekam pernyataan pernyataan yang mengungkapkan kendali dalam pengajaran biasanya dan menemukan bahwa dia menciptakan masalah disiplin melalui peringatan tentang disiplin kepada siswa secara terus menerus. Dia merundingkan peraturan peraturan kelas dengan siswa siswanya, dan masalahnya lenyap begitu saja. Dia terus menjajaki kemungkinan untuk merundingkan kurikulum secara lebih umum dengan siswa, dan memperoleh lebih banyak temuan tentang nilai strategi mengajar yang secara aktif memanfaatkan pengetahuan siswa sebagai landasan pembelajaran selanjutnya. Sekelompok guru menjajaki beberapa strategi untuk pengajaran bahasa remedial di sekolah menengah tingkat pertama. Setelah mengumpulkan data dari siswa, membuat catatan harian tentang amatan dan penilaian mereka sendiri, dan membagi pemahaman mereka selama dua catur wulan, mereka menemukan bahwa mengintegrasikan guru remedial ke dalam kelas kelas biasa sebagai guru yang berkolabori menghasilkan pelajaran yang lebih bagus bagi siswa yang menemui kesulitan daripada strategi mengelompokkan siswa siswa yang mengalami kesulitan dalam kelas terpisah untuk mendapatkan pelajaran remedial. Beberapa kelompok guru telah meneliti masalah dan pengaruh penilaian non kompetitif yang deskriptif. Mereka menemukan bahwa siswa lebih menyukai umpan balik itu lebih membantu pembelajarannya, dan bahwa penilaian tersebut membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kolaboratif. Beberapa guru lain, orang tua, dan beberapa siswa sendiri memiliki kepedulian terhadap siswa yang tidak diberi nilai dan peringkat, tetapi pengaruh dari penghapusan kompetisi sebagai motivator begitu mendesak sehingga guru guru yang terlibat meneruskan kebijaksanaan tentang penilaian nonkompetitif yang deskriptif dan dapat mengatasi mereka yang menantang kebijaksanaan tersebut meskipun tidak seluruhnya. Seorang guru pendidikan lingkungan sekolah dasar tidak puas terhadap kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan yang menyelidiki tentang persoalan lingkungan yang kontroversial. Dia mengubah pola mengajarnya dari diskusi yang dipimpin oleh guru ke “pertemuan kota“ yang dipimpin oleh guru itu sendiri yang terdiri dari beberapa kelompok kecil. Siswa siswa mulai mempertanyakan pernyataan masing-masing tentang persoalan lingkungan secara cukup mendalam dan meminta gurunya untuk tidak menyela. Persoalan mengajar bagi guru tersebut sekarang menjadi “dapatkah saya menduduki posisi manajemen tanpa mempengaruhi karakter perdebatannya?” Penelitian dilakukan oleh Tomo Judin, dkk bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa tentang Kinematika melalui penerapan multimodel berbasis CTL Contextual Teaching and Learning. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Kabupaten Pontianak terhadap 40 orang siswa Kelas X/D yang dilakukan dalam tiga siklus kegiatan. Sasaran yang ingin dicapai tiap tiap siklus adalah pembelajaran multi model berbasis CTL yang memfokuskan pada pemahaman dan pemecahan masalah konsep GLB Gerak Lurus Beraturan dan GLBB Gerak Lurus Berubah Beraturan. Tingkat keberhasilan setiap siklus adalah apabila minimal sebanyak 70,00% siswa mampu menjawab dengan benar sedikitnya 60,00% dari jumlah soal yang ada. Pengumpulan data menggunakan teknik pengukuran berupa tes pemahaman konsep berbentuk pilihan ganda, tes pemecahan masalah berbentuk uraian dan tes kinerja, pedoman observasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pemahaman konsep dan kemampuan siswa menyelesaikan masalah terjadi peningkatan setelah proses pembelajaran. Pemahaman konsep GLB meningkat dari rata rata 5,45 menjadi 6,37. Pemahaman konsep GLBB juga meningkat dari rata rata 3,47 menjadi 6,35. Adapun skor kemampuan melakukan pemecahan masalah meningkat dari 1,2 menjadi 6,36. Kualitas proses pembelajaran juga meningkat karena berdasarkan hasil pengamatan tampak bahwa siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, secara umum, pembelajaran multimodel yang berbasis CTL mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Penelitian dilakukan oleh Haratua, dkk bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran fisika dalam pokok bahasan materi listrik arus searah. Penelitian dilakukan kepada siswa SMP Negeri 9 Pontianak dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Generatif Berbasis CTL Contexual Teaching and Learning. Melalui penelitian ini diupayakan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam ranah kognitif yaitu kemampuan melakukan penalaran sena ranah afektif dan psikomotor yaitu kemampuan kerja ilmiah sehingga memiliki sikap ilmiah dan dapat berkolaborasi dengan orang lain. Selama proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam pembentukan “meaning” sehingga dapat membangun pemahamannya dengan baik. Konsep yang dipelajari juga menjadi lebih bermakna karena terkait dengan konteks kehidupan siswa itu sendiri sehingga penelitian ini juga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Pada siklus I, pembelajaran difokuskan pada tercapainya tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan konsep rangkaian listrik arus searah, khususnya tentang konsep Hukum Ohm. Pembelajaran pada Siklus I ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan. Penemuan I tentang Listrik Dinamis dan Pertemuan II tentang Hukum Ohm. Adapun pada Siklus II, pembelajaran difokuskan pada tercapainya tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan penerapan konsep rangkaian listrik arus searah, khususnya tentang konsep Hukum Ohm. Pembelajaran pada Siklus II ini dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Pertemuan I tentang Penerapan Hukum Ohm, Pertemuan II tentang Penyelesaian Soal yang Menggunakan Hukum Ohm, dan Pertemuan III tentang Perencanaan dan Pelaksanaan Eksperimen tentang Hukum Ohm. Setelah selesai dilakukan proses Pembelajaran Kooperatif dengan Model Generatif’diperoleh hasil a Hasil tes tentang pemahaman konsep Hukum Ohm diperoleh skor rata rata 80,00 dalam interval 60 dan 90 dalam skor maksimum 100, sekitar 70,00% siswa tergolong tuntas. Ini diduga karena dalam pemahaman konsep dimaksud, siswa dibawa langsung pada kondisi nyata yakni eksperimen di kelas. b Hasil tes tentang Penerapan Hukum Ohm diperoleh skor rata rata 78,70 dalam interval 47 dan 94 dalam skor maksimum 100. Hasil skor tes mencapai ketuntasan sebesar 97,00%. Sumber Asrori, Mohammad. 2019. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung CV Wacana Prima. Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui dimensi-dimensi penting yang ada dalam masalah itu dan untuk memberikan penekanan secara lebih jelas. Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, tergantung kepada tingkat kesulitan yang ditunjukkan dalam perumusan masalah. Di antara analisis masalah yang dapat dilakukan adalah analisis sebab-akibat tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat, kajian terhadap data penelitian yang tersedia. atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah cara pandang individu yang terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan analisis masalah ini dapat dilakukan melalui diskusi dengan teman sejawat, dengan fasilitator peneliti dari perguruan tinggi kependidikan, dan juga kajian pustaka yang mempertajam hasil analisis masalah, guru sebagai peneliti dapat berusaha menjawab sebagian pertanyaan di bawah ini yang dipandang relevan dengan prosedur tindakan yang tepat. Dalam menimbang-nimbang berbagai prosedur ini sebaiknya guru sebagai peneliti mencari masukan dari berbagai pihak agar wawasannya tidak ini disajikan hasil analisis masalah yang dilanjutkan dengan perumusan hipotesis tindakan. Di Kelas VII SMP Majapahit, siswa-siswanya sangat lamban untuk memahami teks. Berdasarkan analisis masalah yang dilakukan, guru sebagai peneliti berkesimpulan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki kebiasaan membaca yang salah dalam memahami makna bacaannya, dan bahwa kesiapan pengalaman siswa untuk memahami konteks perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu, hipotesis tindakannya adalah sebagai berikut "Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan lewat teknik-teknik perbaikan yang tepat dan kesiapan pengalaman untuk memahami konteks bacaan ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat kecepatan membacanya". Apabila setelah dilaksanakan tindakan yang direncanakan dan telah diamati, hipotesis tindakan ini ternyata meleset dalam arti pengaruh tindakannya belum seperti yang diinginkan, peneliti harus merumuskan hipotesis tindakan yang baru untuk putaran penelitian tindakan berikutnya. Dengan demikian, dalam suatu siklus spiral penelitian tindakan kelas, guru merumuskan hipotesis tindakan, dan pada siklus berikutnya merumuskan hipotesis yang lain, dan pada siklus berikutnya lagi merumuskan hipotesis yang lain lagi; dan begitulah seterusnya, sampai tindakan yang dilakukan dapat berdampak kepada peningkatan kualitas kemampuan membaca cepat pada siswa Kelas VII SMP Majapahit contoh tersebut di atas, berikut ini juga disajikan beberapa contoh hipotesis tindakan suatu kegiatan penelitian tindakan Guru tidak mungkin bergeser dari situasi formal kalau mereka menggunakan pendekatan terstruktur jangka pendek. Pengertian pendekatan terstruktur jangka pendek adalah pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dalam waktu yang singkat. Penggunaan terstruktur jangka pendek cenderung menceburkan guru ke dalam salah satu di antara dua dilema yang mungkin timbul. Pertama, ada kemungkinan bahwa siswa menggunakan alur penalaran yang berbeda dengan alur penalaran yang diinginkan oleh guru. Misalnya, guru telah menentukan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Karena ada perbedaan alur penalaran antara guru dan siswa, maka terpaksa pencapaian tujuan itu ditempuh dalam waktu yang lebih lama, atau dia harus mengendalikan penalarannya. Jika cara yang pertama yang dipilih, dia memerlukan waktu yang lebih lama, padahal waktu yang ditentukan jelas terbatas. Jika cara kedua yang dipilih, ketergantungan proses berpikir siswa kepada guru pasti semakin bertambah sehingga proses kemandirian dan kreativitas berpikir siswa justru menjadi siswa mungkin sama sekali tidak banyak dapat melakukan penalaran Sebab, untuk bisa mencapai tujuan dalam waktu yang telah ditentukan, sangat boleh jadi guru membimbing siswa ke arah pencapaian tujuan itu dengan memberinya terlalu banyak petunjuk. Dalam situasi semacam itu, kemungkinan besar siswa banyak menebak ke arah mana jawaban yang diinginkan oleh guru karena mereka tidak ingin terlalu menyimpang dari jawaban yang diinginkan oleh guru. Akibatnya, siswa justru bisa kehilangan kemandirian dalam melakukan penalarannya dan yang semakin berkembang justru ketergantungan siswa yang semakin tinggi kepada gurub. Untuk menghilangkan tebak-menebak dan bergeser dari situasi formal ke situasi informal, guru mungkin harus menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal Mengubah topikGuru mengubah topik yang sedang dibicarakan, dapat menghambat siswa dalam mengungkapkan dan mengembangkan gagasan-gagasannya sendiri karena siswa cenderung menafsirkan perubahan tersebut sebagai usaha untuk mendapatkan kesesuaian dengan alur penalaran tertentu yang dikembangkan oleh gurunya. 2 Penguatan positifUngkapan tanggapan positif yang terlalu mantap, dengan menggunakan kata kata "bagus, wah sangat menarik itu, atau betul sekali kamu" sebagai tanggapan terhadap gagasan tertentu yang diungkapkan siswa dapat menghalangi pengungkapan dan pembahasan gagasan-gagasan yang lain karena siswa cenderung menafsirkan kata-kata penguatan yang diberikan oleh guru itu sebagai isyarat bahwa jawaban siswa itu merupakan satu-satunya jawaban yang benar. Akibatnya, karena siswa terlalu merasa puas terhadap jawabannya itu sehingga kurang mau mengembangkan lagi gagasan-gagasan yang lain. 3 Pengajuan pertanyaan kritis secara selektifGuru yang mengajukan pertanyaan secara kritis kepada siswa-siswa tertentu saja dan bukan kepada semua siswa dapat menghalangi kelompok siswa tersebut untuk mengembangkan gagasan-gagasannya karena pertanyaan demikian cenderung bisa ditafsirkan sebagai evaluasi negatif terhadap gagasan gagasan yang Pertanyaan dan pernyataan yang mengarahPertanyaan dan pemyataan yang mengandung informasi tentang jawaban yang diinginkan guru dapat menghalangi siswa untuk mengembangkan gagasan gagasannya sendiri karena mereka cenderung menafsirkan tindakan demikian sebagai usaha menghambat atau membatasi arah pemikiran meraka. 5 Mengundang kesepakatan bulatGura menanggapi gagasan-gagasan siswa dengan pertanyaan seperti "apakah kalian semua setuju?" atau "Apakah ada yang tidak setuju?" cenderung menghalangi pengungkapan keragaman pikiran atau pendapat siswa. 6Urutan pertanyaan jawabanGuru yang selalu mengajukan pertanyaan setelah mendengar jawaban siswa terhadap pertanyaan sebelumnya dapat menghalangi siswa untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka sendiri karena siswa mungkin menafsirkan pola demikian sebagai usaha untuk mengendalikan masukan dan urutan Mengendalikan informasi faktualGuru yang menyampaikan informasi faktual secara pribadi, secara tulisan atau lisan, dapat menghalangi siswa untuk mengevaluasinya karena siswa cenderung menafsirkan intervensi demikian sebagai usaha untuk membuat mereka menerima kebenaran. 8 Tidak meminta evaluasiGuru yang tidak meminta siswanya untuk mengevaluasi informasi yang mereka pelajan dapat menghalangi mereka untuk mampu mengajukan kritik secara baik karena siswa cenderung menafsirakn situasi tersebut sebagai hal yang melarang adanya kritikc. Guru yang menggunakan pendekatan terstruktur jangka panjang dalam konteks dimana siswa secara psikologis bergantung kepada guru lebih kemungkinannya untuk bergeser dari situasi formal dibanding dengan guru yang menggunakan pendekatan tak siswa secara psikologis tampak sangat bergantung kepada guru, maka guru dapat mengurangi ketergantungan tersebut dengan jalan meyakinkan bahwa mereka tidak akan bisa memperoleh jawaban dari guru. Pertanda apapun yang menunjukkan digunakannya pendekatan terstruktur, meskipun dalam jangka panjang, mendorong mereka untuk menghabiskan tenaganya untuk mendapatkan jawaban dari gurunya. Tentu saja, guru dapat berusaha meyakinkan siswanya bahwa tidak memiliki jawaban yang diinginkan, tetapi mungkin cara yang baik adalah mengusahakan mencapai tujuan-tujuan yang tak terstruktur sehingga siswa lebih leluasa dalam mengembangkan gagasan-gagasan mereka untuk sampai pada jawaban yang diinginkan. d. Agar dapat menggunakan pendekatan tak terstruktur dan bergeser dari situasi formal, mungkin untuk sementara guru perlu menggunakan metode terbuka daripada terbimbingBimbingan dalam pendekatan terstruktur berbeda dari bimbingan dalam pendekatan tak terstruktur. Ciri perbedaan itu dapat ditemukan dalam bahasa yang digunakan untuk bertanya. Di dalam pendekatan terstruktur, pertanyaan guru cenderung terfokus pada bahan pembicaraan, sedangkan dalam pendekatan tak terstruktur pertanyaan guru cenderung terfokus pada siswanya. Artinya, dalam pendekatan terstruktur, pembicaraan dipusatkan pada hal-hal di luar diri siswa sehingga terasa kurang bermakna. Sebaliknya, dalam pendekatan tak terstruktur pembicaraan dikaitkan dengan pengalaman siswa sehingga bahan yang fokus dibicarakan tampak seperti bagian dari diri siswa sehingga lebih terasa bermakna bagi Dalam konteks siswa mengembangkan kepercayaan terhadap kekuatan penalaran mereka sendiri guru dapat mengubah metode tak terstruktur terbuka kepada metode terstruktur-terbimbing berorientasi pada siswa dengan menghindarkan dari kendala bagi terjadinya pembelajaran siswa tidak merasakan adanya kebutuhan yang besar untuk bergantung kepada gurunya, maka akan lebih kecil kemungkinannya siswa salah dalam menafsirkan bimbingan yang berorientasikan kepada siswa sebagai pertanda yang bersifat tersembunyi tentang jawaban yang diinginkan Dalam konteks siswa mengembangkan kepercayaan terhadap kekuatanpenalaran mereka sendiri, guru dapat menggunakan pendekatan terstruktur jangka panjang Begitu siswa dapat menghargai dan lebih yakin terhadap arah pembelajarannya sendiri, mereka kurang tertarik untuk memandang jawaban dari gurunya. Bahkan, meskipun mereka menyadari bahwa guru menginginkan jawaban tertentu, mereka berusaha untuk memikirkan sendiri jawaban-jawaban itu asal gurunya tidak menghalangi mereka melakukan proses pemikiran itu dengan cara memotong proses penalaran mereka karena ingin memberikan jawaban ini ada sejumlah pertanyaan penting yang dirumuskan oleh Kemmis dan Me Taggar, yang dapat membimbing guru sebagai peneliti untuk menganalisis masalah secara lebih cermat dan Apa hubungan antara individu dan kelompok dalam situasi ini? b. Apa yang diungkap oleh situasi ini tentang hubungan antara jati din individual dan budayanya?c. Bagaimana situasi ini mengungkapkan hubungan antara nilai-nilai orang dan kepentingan diri mereka?d. Sejauh mana situasi ini dibentuk oleh kondisi objektif, dan sejauh mana situasi dibentuk oleh kondisi subjektif seperti harapan dan cara memahami dunia pada orang-orang yang terlibat dalam penelitian? e. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara pertentangan dan perlembagaan? f. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara kapasitas kemauan manusia dengan struktur kerangka kerja yang membentuk dan membatasi kapasitas untuk melaksanakan kemauan itu?g. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara teori dan praktik? h. Apa yang diungkapkan dalam situasi ini tentang hubungan antara proses dan produk? i. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara pendidikan dan masyarakat? j. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara reproduksi dan trarasformusi? k. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara stabilitas atau kesinambungan dengan perubahan atau keputusan sejarah? l. Apa yang diungkapkan oleh situasi ini tentang hubungan antara keadaan dan konsekuensi, atau tentang hubungan antara tujuan dan pencapaian?Tentu saja guru sebagai peneliti tidak mungkin dapat menjawab semua pertanyaan di atas atau menjawab semua pertanyaan secara menyeluruh. Namun, daftar pertanyaan itu dapat membantu peneliti dalam memahami situasi yang ada bersama gejala-gejala yang perlu diteliti. Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin akan membuat peneliti merasa masih kurang mengenai pengetahuan tentang situasi yang akan diteliti sehingga mampu melihat kekurangan pada dirinya. Kemampuan untuk melihat kekurangan yang ada pada dirinya adalah salah satu persyaratan bagi keberhasilan penelitian tindakan. termasuk penelitian tindakan Mohammad Asrori, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, 2016, wacana prima h. 93 Dalam konteksnya dengan langkah pertama ini, yakni mengidentifikasi dan merumuskan masalah, lebih dahulu disajikan uraian tentang ruang lingkup masalah dalam penelitian tindakan kelas. Ini penting agar dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah menjadi lebih terfokus pada objek penelitian yang akan diteliti. Dengan adanya ruang lingkup masalah, kegiatan mengidentifikasi masalah tidak akan keluar terlalu jauh menyimpang dari permasalahan yang sesungguhnya akan diteliti. a. Ruang Lingkup Masalah Penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengubah perilaku penelitinya yaitu guru, perilaku orang lain yaitu siswa, atau mengubah kerangka kerja yaitu kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya menghasilkan perubahan dan peningkatan kualitas keseluruhan aspek tersebut. Singkatnya, penelitian tindakan kelas dilakukan untuk meningkatkan kualitas keseluruhan praktik pembelajaran dalam situasi nyata. Sesuai dengan keragaman situasi lapangan, beragam pula konteks penelitian tindakan kelas, antara lain sebagai berikut. 1 Berperan sebagai pemacu dilakukannya tindakan yang tujuannya adalah agar sesuatu dilakukan secara lebih tepat-guna. 2 Ditujukan untuk keberfungsian personal, hubungan antarpribadi dan moral, berkenaan dengan efisiensi kinerja, peningkatan motivasi, dan keaktifan hubungan antarindividu. 3 Difokuskan pada analisis pekerjaan dan dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi dan efisiensi profesional. 4 Berkenaan dengan inovasi dan perubahan serta cara melaksanakannya dalam sistem yang ada. 5 Difokuskan pada pemecahan masalah dalam konteks pembelajaran tertentu yang memerlukan pemecahan atau perbaikan. Dalam konteks ini, beberapa contoh bidang garapan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut 1 Metode Mengajar, misalnya, mengganti metode tradisional dengan metode penemuan baru atau penerapan metode kreatif-bervariasi. 2 Strategi Belajar, misalnya, penerapan pendekatan integratif dalam pembelajaran, pendekatan kontekstual, pendekatan kolaboratif, pendekatan eksperiansial, pendekatan JIGSAW, dan sebagainya. 3 Prosedur Evaluasi, misalnya, meningkatkan penggunaan metode penilaian berkelanjutan, penilaian berbasis kelas, penilaian portofolio, dan sebagainya. 4 Sikap dan Nilai, misalnya peningkatan motivasi timbulnya sikap dan kebiasaan belajar yang baik, atau peningkatan sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan lainnya. 5 Pengembangan Profesional Guru, misalnya, meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, meningkatkan. kemampuan analisis, atau meningkatkan penghayatan profesi keguruan. 6 Pengelolaan dan Kontrol, misalnya, pengenalan secara bertahap tentang teknik-teknik modifikasi tingkah laku. Karena penelitian tindakan kelas harus mempertimbangkan situasi secara keseluruhan, istilah masalah tematik sebagaimana yang dikenalkan oleh Kemmis dan McTaggart perlu dipahami juga oleh guru. Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan beberapa contoh berkenaan dengan masalah tematik tersebut. 1 Masalah tematiknya mengembangkan kepekaan kurikulum dan pembelajaran terhadap lingkungan rumah siswa. Metode meningkatkan keefektifan interaksi guru dengan orang tua siswa. 2 Masalah tematiknya mengembangkan keaktifan dan penghayatan yang lebih mendalam pada diri siswa terhadap pemikiran ilmiah. Metode menerapkan model pembelajaran yang menuntut keaktifan dalam bidang sains siswa 3 Masalah tematiknya mengembangkan dan melestarikan warisan dwibudaya dalam masyarakat kesukuan melalui pendidikan. Metode kurikulum dwibahasa dan dwibudaya dengan melibatkan anggota masyarakat secara aktif dalam kegiatan bahasa dan budaya di kelas. b. Identifikasi Masalah Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan identifikasi oleh guru sendiri sebagai peneliti, meskipun dapat juga dilakukan dengan bantuan seorang fasilitator, supaya merasa betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya terdapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam penerapan model pembelajaran. penggunaan metode, penggunaan alat peraga, rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran, kreativitas belajar siswa, dan sebagainya. Pendek kata, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan. Ada beberapa kriteria dalam penentuan masalah, yaitu 1 masalah harus penting bagi guru dan siswa serta perbaikan proses pembelajaran 2 masalah harus realistis, artinya benar-benar dirasakan sebagai sesuatu yang penting untuk diteliti dan diperbaiki 3 masalah harus bersifat problematik, artinya memang benar-benar menuntut untuk dilakukan pemecahannya. Perlu ditekankan di sini bahwa tidak semua masalah yang riil menuntut pemecahan karena a bisa jadi masalah itu sudah ada yang meneliti atau membahas, b masalah berada di luar kewenangan dan tanggung jawabnya, dan c masalah itu tidak jelas manfaatnya; 4 masalah harus mengandung manfaat yang jelas untuk perbaikan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa; 5 masalahnya hendaknya berada dalam jangkauan penanganan. Artinya, jangan sampai memilih masalah yang guru sendiri kesulitan untuk melakukannya, karena a tidak ada alat pendukung. b tidak ada dana, c tidak cukup waktu, d banyak faktor penghambatnya 6 pernyataan masalah harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai faktor-faktor penyebabnya sehingga upaya pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini dan bukan berdasarkan fenomena yang bersifat dangkal. Selain kriteria di atas, sejumlah kriteria berikut ini juga sangat penting diperhatikan untuk menentukan masalah dalam penelitian tindakan kelas, yaitu 1 masalah yang akan diteliti dan dipecahkan diangkat dari praktik pembelajaran di kelas; 2 penanganan masalah dilakukan secara langsung dan segera pada saat itu juga 3 penelaahan atau pencermatan terhadap ada-tidaknya perbaikan atau kemajuan dari tindakan yang dilakukan harus lebih berfokus pada data hasil observasi dan data perubahan perilaku daripada data dokumentasi 4 masalah penelitian harus difokuskan untuk tujuan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran c. Perumusan Masalah Masalah dalam penelitian tindakan kelas adalah kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan dalam kegiatan pembelajaran Masalah-masalah tersebut hendaknya dideskripsikan dengan jelas agar perumusan masalahnya dapat dibuat secara jelas pula. Pada intinya, rumusan masalah harus mengandung deskripsi secara jelas tentang kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan keadaan yang diinginkan. Berikut ini disajikan contoh perumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas 1 Sebanyak 80% siswa kelas VII SMP Majapahit tahun pelajaran 2007/2008 mengalami kesulitan dalam penguasaan kosa kata Bahasa Inggris. 2 Sebanyak 85% siswa kelas IX SMP Kalingga tidak menguasai perubahan bentuk kata dari kata sifat ke dalam kata benda dalam pelajaran menulis writing bahasa Inggris src. Mohammad Asrori, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, 2016, wacana prima h. 88 Identifikasi masalah penelitian tindakan kelas atau PTK dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya berpedoman pada kata-kata kunci berikut Apakah saya merasakan bahwa terdapat masalah di kelas saya? Mengapa masalah tersebut dapat terjadi ? Apa dampak dari masalah tersebut bagi kelas saya? Apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak saya atasi? Apa yang perlu saya lakukan untuk mengatasi masalah tersebut? dan seterusnya Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda perlu melakukan refleksi. Yang dimaksud refleksi dalam konteks PTK adalah berpikir reflektif reflective thinking. Salah satu aspek tentang cara melakukan berpikir reflektif adalah melakukan monitoring tentang hal-hal yang sudah dilakukan guru pada saat mengajar di kelas, antara lain seperti berikut Pertama, berpikir tentang kegiatan mengajar di kelasnya secara umum comprehensive teaching Kedua, mengingat kembali tentang pelajaran-pelajaran tertentu yang dirasakan bermasalah Ketiga, berpikir tentang bagaimana membantu siswa secara invidual. Hasil output dari berpikir reflektif diimplementasikan dalam bentuk Pertama, catatan berkala journal writing Kedua, pertemuan dengan teman sejawat untuk berdiskusi Ketiga, berdiam diri untuk melakukan dialog dengan diri sendiri Keempat, mempelajari kembali peta manajemen kelas yang sudah Anda lakukan selama ini, apakah perlu melakukan perubahan? Kelima, memfokuskan pikiran atau memonitor berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut Apakah saya sudah menjadi guru yang baik? Bagaimana cara saya mengajar di kelas? Bagaimana saya sudah mengelola kelas dengan baik? Selama ini, bagaimana cara saya berinteraksi dengan siswa? Bagaimana saya dapat menemukan metode mengajar yang efektif dan siswa saya mencapai prestasi yang baik? Melalui proses berpikir reflektif di atas, Anda sebagai guru akan mampu mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelas Anda. Sebagai guru, lakukan cara berpikir reflektif tersebut. Cara berpikir reflektif dilakukan melalui proses analisis dan sintesis serta induksi dan deduksi. Jawaban dari pertanyaan di atas dijabarkan dalam bentuk Hipotesis Tindakan. Demikianlah penjelasan singkat tentang Identifikasi masalah penelitian tindakan kelas PTK Sumber I Wardhani, Kuswaya Wihardit. Penelitian Tindakan Kelas. 2016. Tanggerang Selatan Penerbit Universitas Terbuka Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas PTK Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung Judul Proposal PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG CAMPURAN MELALUI MEDIA PATUNG PADA SISWA KELAS IV SD N 2 KEMBANG JEPARA A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut juga telah dicantumkan dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Menurut Purwanto 201439 belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai apabila guru mampu mewujudkan suatu proses belajar mengajar yang baik. Guru harus mampu mengetahui karakteriktistik siswa dan juga materi yang akan disampaikan. Salah satu mata pelajaran yang siswanya sering mengalami kesulitan yaitu matematika. Hal tersebut dikarenakan siswa merasa tidak mampu berpikir secara abstrak, selain itu guru tidak menampilkan media-media yang dapat membantu siswa memahami materi. Pelajaran matematika merupakan pelajaran berhitung yang dirasakan sulit oleh sebagian besar siswa. Data di sekolah menunjukkan bahwa nilai rata-rata matematika kelas IV lebih rendah dibandingkan dengan pelajaran yang lain misal bahasa indonesia, IPA, IPS. Tabel 1. Nilai rata-rata mata pelajaran siswa SD Negri 2 Kembang No Mata Pelajaran Nilai Rata-Rata 1 Matematika 63 2 Bahasa Indonesia 75 3 IPA 73 4 IPS 80 Kesulitan siswa pada mata pelajaran matematika terletak pada materi operasi hitung campuran. Data hasil ulangan harian siswa kelas IV SD N 2 Kembang menunjukkan dari 14 siswa, terdapat 4 siswa yang memenuhi KKM Kriteria Ketuntasan Minimum dan 10 siswa lainnya mendapatkan nilai kurang dari KKM. Nilai KKM dari mata pelajaran matematika adalah 70. Tabel 2. Hasil ulangan harian siswa kelas IV SD Negri 2 Kembang Keterangan Jumlah Siswa Persentase % Nilai dibawah KKM 4 28,6% Nilai diatas KKM 10 71,4% Hasil belajar siswa yang kurang pada materi operasi hitung campuran di kelas IV diakibatkan oleh kelemahan guru dan siswa. Kelemahan guru tersebut adalah kurangnya kemampuan untuk menarik perhatian siswa, kurangnya kemampuan untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan kurangnya kemampuan untuk menciptakan media-media pembelajaran yang inovatif. Sebaliknya kelemahan siswa adalah kesulitan memahami materi pemelajaran dan cepat bosan dalam menerima materi. Media pembelajaran PATUNG Papan Berhitung dapat menjadi alternatif dalam membantu guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi hitung campuran. Media PATUNG membantu partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, hal itu diharapkan dapat meningkatnya hasil belajar siswa. Media pembelajaran PATUNG adalah media visual dan merupakan media grafis yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima. Media PATUNG adalah singkatan dari “Papan Hitung” media ini berbentuk papan yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan operasi bilangan dan dilengkapi oleh soal-soal latihan. Media PATUNG ini menekankan pada pengulangan kalimat yang terdapat pada media. Kalimat pada media tersebut dibacakan oleh siswa sebelum menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru. Setelah membacakan kalimat yang tertera pada papan berhitung, siswa mengerjakan soal yang disediakan oleh guru di media papan berhitung tersebut. Kemudian soal dibahas bersama-sama oleh guru dan siswa. Secara bahasa media berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘medium’. Menurut Heinich, dan kawan kawan 1982 dalam Arsyad 20133 mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Pendapat itu menenkankan bahwa medium atau media merupakan alat bantu yang digunakan untuk mempermudah pesan yang disampaikan untuk diterima. Sementara menurut Arsyad 20133 media dalam proses belajar mengajar cendrung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau electronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Pengertian dari Arsyad menekankan media adalah alat yang digunakan untuk menyusun kembali informasi visual atau verbal yang memudahkan siswa menerima pesan. Media menjadi alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Mempermudah peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan definisi media menurut ahli di atas, dapat dikatakan bahwa media memberikan manfaat, yaitu mempermudah siswa dalam menerima pesan yang disampaikan oleh guru. Lebih lanjut media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, perhatian dan minat siswa dalam belajar Berdasarkan pembahasan di atas maka, untuk mengatasi masalah belajar anak peneliti mencoba untuk menyelesaikan masalahnya. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan peneliti dengan cara menerapkan media PATUNG dalam pembelajaran. Selanjutnya untuk melihat hasil dari implementasi media PATUNG peneliti merumuskan membuat Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Campuran Melalui Media PATUNG Pada Siswa Kelas IV SD N 2 Kembang Jepara”. B. Identifikasi Masalah Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini adalahHasil belajar siswa rendah. Guru tidak menggunakan media dalam pembelajaran matematika materi operasi hitung tidak dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif. Siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. Guru selalu menggunakan metode ceramah. C. Pembatasan Masalah Peneliti melakukan batasan-batasan masalah yang akan dibahas, meliputi Peningkatan hasil belajar melalui media pembelajaran PATUNG dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara yang berjumlah 14 siswa. Adapun materi yang dipilih oleh peneliti adalah operasi hitung campuran pada semester genap. Dalam hal ini peneliti akan melakukan tindakan/treatment dalam dua siklus melalui Penelitian Tindakan Kelas PTK. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut Apakah penerapan media pembelajaran PATUNG pada materi operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara? E. Pemecahan Masalah Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah media pembelajaran PATUNG. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas PTK dengan empat langkah pada setiap siklus yaitu perencanaan planning, aksi atau tindakan acting, observasi observing, dan refleksi reflecting. F. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan peneliti, maka tujuan dari PTK; 1. Secara umum yang menjadi tujuan dalam PTK ini adalah untuk meningkatkan sikap profesionalitas guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran di SD N 2 Kembang Jepara sehingga dapat memiliki nilai akademik yang baik. 2. Secara khusus penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan media pembelajaran PATUNG pada materi operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara. G. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Bagi Sekolah; Memberikan kontribusi yang baik mengenai media-media pembelajaran yang inovatif dalam rangka peningkatan kualitas dan hasil pembelajaran di sekolah. 2. Bagi Guru; Mengetahui media-media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, serta profesionalitas guru juga akan semakin meningkat. 3. Bagi Siswa; Membiasakan siswa untuk belajar aktif dan juga siswa mampu meningkatkan kemampuan berhitung yang secara otomatis akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. BACA JUGA Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 Peningkatan Hasil Belajar Matematika dg Pendekatan Matematika Realistic Contoh Proposal Skripsi Kuantitatif Pendidikan Pengaruh Model pembelajaran Jig Saw dan STAD Terhadap Hasil Belajar Contoh Penelitian TIndakan Kelas PAUD Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas PTK Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media Patung Download Kumpulan Contoh Skripsi Penelitian dan Pengembangan R&D Jurusan PGSD Contoh Judul Skripsi Kualitatif PGSD Tahun 2016 Download Filenya Dengan Sekali KLIK Download Contoh PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 MUDAH DOWNLOAD 1 x KLIK!! Download 101 Contoh Skripsi Penelitian Kuantitatif PDF PGSD Dengan Sekali KLIK!!! Download Contoh Skripsi Pendidikan PGSD Lengkap FIle PDF Sekali KLIK 100 Contoh Judul Penelitian Kualitatif PGSD Berkualitas! dan Cara Membuat Judul Penelitian CONTOH PROPOSAL SKRIPSI KUANTITATIF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH H. Kajian Teori 1. Belajar Skinner dalam Walgito 2009166 memberikan definisi belajar “Learning is a process of progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progersif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresivitas, adanya tendensi ke arah yang lebih sempurna atau lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sementara Mc Geoch dalam Walgito 2009167 memberikan definisi mengenai belajar “Learning is a change in performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan practice. Pengertian latihan atau practice mengandung arti bahwa adanya usaha dari individu yang belajar. Piaget dalam Dimyati dan Mudjiono 200913 berpendapat pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Selain itu Morgan, dkk. memberikan definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience ”. Hal yang muncul dalam definisi ini ialah bahwa perubahan perilaku atau performance itu relatif permanen Walgito, 2009167. Di samping itu juga dikemukakan bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan practice atau karena pengalaman experience. Berdasarkan berbagai pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh perubahan perilaku sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dari seseorang. 2. Hasil Belajar Hasil belajar juga merupakan suatu komponen yang sangat penting bagi pembelajaran. Hasil belajar menjadi variabel dependen atau variabel yang dipengaruhi. Artinya bahwa hasil belajar merupakan hasil dari sebuah tindakan yang diberikan dalam proses pembelajaran. Menurut Dimyati dan Mudjiono 20093 hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Pendapat tersebut menekankan bahwa hasil belajar berasal dari suatu interaksi. Interaksi adalah komunikasi anatar guru dan peserta didik. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Sedangkan menurut Suprijono 20095 hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan ketrampilan. Hal ini berarti hasil belajar merupakan cerminan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Cerminan ini merupakan akibat dari terjadinya suatu proses interaksi anatar guru dan murid yang disebut dengan proses pembelajaran. Bersasarkan berbagai pengertian hasil belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh seseorang setelah melakukan proses pembelajaran dengan cara mengevaluasi untuk mengetahui tercapai tidaknya suatu tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu Slameto, 201054 a. Faktor Intern Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Dalam faktor intern terdapat tiga faktor penting yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yaitu inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan juga kesiapan. b. Faktor Ekstern Faktor Ekstern yaitu faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga memberikan berbagai macam interaksi yang memberikan pengaruh kepada siswa, berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran,waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Sedangkan dalam faktor masyarakat meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi jasmaniah, sikologis, dan kelelahan sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat. 3. Operasi Hitung Campuran Operasi hitung campuran bilangan bulat merupakan materi pokok dari kurikulum KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD. Mata pelajaran matematika operasi hitung campuran terdapat pada kelas 4 dengan SK 1 yaitu memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah dan KD yaitu melakukan operasi hitung bilangan campuran. Materi tersebut merupakan lanjutan dari materi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian yang telah mulai dipelajari sejak kelas 2 yang terdapat pada SK 1 dengan KD yaitu melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500. Prasyarat materi yang harus dikuasai siswa sebelum mempelajari materi operasi hitung campuran adalah operasi hitung dasar dan pemahaman tentang bilangan bulat positif dan negatif. Beberapa kendala yang sering ditemukan dalam mengajarkan operasi hitung campuran adalah materi prasyarat yang dikuasai siswa masih lemah. Di samping itu pula, masih banyak siswa yang tidak mengerti mana yang harus didahulukan dalam penghitungan hitung campuran. Kompetensi yang dituntut dalam mempelajari operasi hitung campuran bilangan bulat adalah siswa dapat melakukan operasi hitung campuran bilangan bulat dan memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan operasi hitung campuran bilangan bulat. Kompetensi ini sering tidak tercapai karena siswa tidak memahami teori dasar melakukan operasi hitung campuran, serta karena lemahnya pada operasi hitung dasar dan kurangnya ketelitian siswa terhadap tanda bilangan dan tanda operasinya. Selain itu siswa juga kurang memeahami sifat-sifat pengerjaan operasi hitung campuran. Adapun sifat-sifat operasi hitung campuran sebagai berikut a Operasi penjumlahan + dan pengurangan - sama kuat, artinya operasi yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu. b Operasi perkalian x dan pembagian sama kuat, artinya operasi yang terletak di sebelah kiri dikerjakan terlebih dahulu. c Operasi perkalian x dan pembagian lebih kuat dari pada operasi penjumlahan + dan pengurangan -, artinya operasi perkalian x dan pembagian dikerjakan terlebih dahulu dari pada operasi penjumlahan + dan pengurangan -. Untuk mencapai tujuan belajar pada materi operasi hitung campuran maka proses belajar mengajar di dalam kelas harus berlangsung secara aktif bagi siswa. Berdasarkan paradigma kontruktivisme Rusman 201551 menjelaskan bahwa belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangun pengetahuannya. Siswa belajar dengan aktif untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dipelajari. Belajar dengan malakukan secara mandiri dan guru hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat secara aktif menemukan pengetahuan. 4. Media Pembelajaran Menurut Heinich, dkk 1993 dalam Hernawan, dkk 20073 Media merupakan alat saluran komunikasi, yang berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan menurut Criticos 1996 dalam Daryanto 20124 Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat atau sarana untuk berkomunikasi dengan siswa dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar. Jenis-jenis media pembelajaran menurut Hernawan, dkk 200722-34 adalah sebagai berikut a. Media Visual Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. 1 Media Visual yang Diproyeksikan Media visual yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat proyeksi projector sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar screen. 2 Media Visual Tidak Diproyeksikan Media visual yang tidak diproyeksikan adalah media visual yang ditampilkan tanpa alat proyeksi projector sehingga gambar ditampilkan secara langsung, seperti a Gambar Fotografik Gambar fotografik adalah gambar diam/mati still picture, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/ bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. b Grafis Media grafis adalah media pandang dua dimensi bukan fotografik yang didalamnya terdapat unsur gambar dan tulisan yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. c Media Tiga Dimensi Media tiga dibagi menjadi tidua jenis, yaitu media realita dan media model. Media realita merupakan model atau objek langsung dari benda nyata, sedangkan media model merupakan tiruan dari objek nyata. b. Media Audio Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif hanya dapat didengar yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. c. Media Audio-Visual Media Audio-Visual merupakan kombinasi audio dan visual yang biasa disebut media pandang dengar. Kriteria umum pemilihan media menurut Hernawan, dkk 200764-66 adalah sebagai berikut 1 kesesuaian dengan tujuan instructional goals, 2 kesesuaian dengan materi pembelajaran, 3 kesesuaian dengan karakteristik siswa, 4 kesesuaian dengan teori, 5 kesesuaian dengan gaya belajar siswa, 6 kesesuaian dengan lingkungan. Kriteria khusus pemilihan media menurut Hernawan, dkk 200766-67 merumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari access, cost, technology, interactivity, organization dan novelty. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut; 1 Access, yaitu pertimbangan mengenai akses dalam penggunaan media. Siswa memiliki akses seperti izin penggunaan atau pun sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat menggunakan media tersebut, 2 Cost, yaitu pertimbangan mengenai biaya. Mahalnya biaya yang dikeluarkan harus mempertimbangkan aspek manfaatnya, 3 Technology, yaitu pertimbangan teknologi yang tersedia. Dengan terknologi yang tersedia apakah media media tersebut dapat digunakan atau tidak. 4 Interactivity, yaitu pertimbangan interaktivitas. Media yang baik dapat memunculkan komunikasi dua arah, 5 Organization, yaitu pertimbangan organisasi. Hal ini seperti dukungan dari kepala sekolah atau yayasan serta pengorganisasiannya, 6 Novelty, yaitu pertimbangan kebaruan media. Media yang baru biasanya lebih menarik bagi siswa. Suatu media pengajaran tentunya terdapat nilai praktisnya. Menurut Nana Sudjana 1991 dalam Djamarah dan Zain 2010135 mengemukakan nilai-nilai praktis media pengajaran adalah; 1 Dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir. 2 Dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. 3 Dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap. 4 Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiripada setiap siswa. 5Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan. 6 Membantu tumbuhnya pemikiran dan memantu berkembangnya kemampuan berbahasa. 7 Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna. 8 Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa macam kriteria atau pertimbangan dalam pemilihan sebuah media. Pemilihan media tidak semata-mata hanya seberapa menarik media tersebut, tetapi juga melihat pertimbangan-pertimbangan lain sehingga media tersebut dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran dan tujuan pembelajaran itu sendiri dapat tercapai. 5. Media PATUNG Papan Berhitung Sebuah penelitian menunjukan bahwa penggunaan media papan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Marifah Hermin yang menyatakan bahwa Media pembelajaran papan napier memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi operasi hitung perkalian bagi kelas III SD Dapuan Surabaya. Hal tersebut diketahui dengan adanya peningkatan yang sangat baik dengan diperoleh presentase nilai aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada siklus I 67,64% dan pada siklus II 89,21%, presentase nilai aktivitas siswa pada proses pembelajaran pada siklus I 70,00% dan pada siklus II 89,94%, serta ketuntasan belajar siswa secara klasikal, yaitu siklus I 65,00% dengan rata-rata 64,75 dan siklus II 85,00% dengan rata-rata 81,35. Menurut Marifah media papan napier yang digunakan peneliti dalam penelitian tersebut merupakan modifikasi dari teknik perkalian napier yang diwujudkan ke dalam bentuk media yang berupa papan visual yaitu papan tulis putih atau whiteboard yang terbuat dari papan kayu triplek. Papan napier adalah papan tulis putih yang terdapat susunan atau pola yang sama dengan teknik perkalian napier yaitu dengan menuliskan semua hasil perkalian dua bilangan pada susunan kotak yang memiliki garis diagonal/garis miring. Media PATUNG atau media papan berhitung merupakan media visual dan termasuk media grafis yang berbentuk papan. Sebagaimana halnya media yang lain media PATUNG berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang dituangkan dalam bentuk grafis. Media papan hitung adalah media papan dua dimensi yang berbentuk persegi panjang. Mempunyai panjang 100 cm dengan lebar 70 cm. Pada papan tersebut terdapat penjelasan cara melakukan operasi hitung campuran. Lebih lanjut dalam media tersebut juga terdapat kolom soal dan kolom untuk mengerjakan soal tersebut. Media PATUNG ini menekankan pada pengulangan kalimat yang terdapat pada media tersebut yang dibacakan oleh siswa sebelum menyelesaikan soal yang disediakan oleh guru. Setelah membacakan kalimat yang tertera pada papan berhitung, siswa mengerjakan soal yang disediakan oleh guru di media papan berhitung tersebut. Kemudian soal dibahas bersama-sama oleh guru dan siswa. Pengulangan terus – menerus pada materi yang dibacakan oleh salah satu siswa akan membuat siswa yang lain lebih ingat tentang materi yang disampaikan, dan penyampaian materi oleh teman sebaya akan lebih mudah dipahami oleh siswa tersebut. Papan napier sebagai media pembelajaran mempunyai kesamaan dengan media PATUNG yang peneliti gunakan, dimana media papan napier adalah media yang terbuat dari papan yang ditunjukan kepada siswa untuk meningkatkan fokus siswa dalam menjawab soal-soal yang diberikan guru. Sama dengan media napier, media PATUNG juga terbuat dari papan. Kesamaan lain ada pada fungsinya dimana kedua media ini berfungsi untuk membantu siswa menghitung secara langsung pada papan media. Penerapan media PATUNG akan menjadikan pembelajaran mudah dipahami oleh siswa. Dengan mendemostrasikan cara mengerjakan soal-soal materi operasi bitung campuran. Melalui media PATUNG siswa dapat melihat secara nyata bagaimana sebuah soal dapat dikerjakan atau diperoleh solusi penyelesaiannya. Dengan beberapa siswa yang mengerjakan soal didepan kelas dengan menggunakan media PATUNG maka siswa akan secara aktif mencoba untuk mengerjakannya. Lebih lanjut suasana kelas akan menjadi lebih kondusif karena perhatian siswa tertuju pada materi pelajaran dengan menggunakan media PATUNG. 6. Kerangka Berpikir Hasil belajar yang baik, idealnya tercapai karena proses belajar mengajar berlangsung dengan baik pula. Sehingga tercapai tujuan dari proses belajar yang telah ditetapkan. Namun dalam sebuah kelas yang terdapat di SD N 2 Kembang Jepara khusunya di kelas 4, pada mata pelajaran matematika dengan materi pembelajaran operasi hitung campuran tujuan pembelajaran tersebut tidak tercapai, hal tersebut ditandai dengan nilai pelajaran pada mata pelajaran matematika yang lebih rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Lebih lanjut nilai ulangan siswa kelas 4 SD N 2 Kembang juga menunjukan rata-rata nilai yang belum mencapai KKM. Rendahnya hasil belajar pada siswa kelas 4 SD N 2 Kembang diakibatkan oleh prsoses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu peneliti melakukan PTK dengan dua siklus. Pada siklus pertama akan diberikan tindakan yaitu guru menggunakan media PATUNG pada pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran. Setelah tindakan dilakukan selanjutnya peneliti mengamati hasil belajar dengan penggunaan treatmean tersebut. Jika hasil tersebut belum mencapai target peningkatan yang ditetapkan maka dilakukan treatmeant atau tindakan pada siklus yang kedua yaitu dengan guru menggunakan media PATUNG dalam pembelajaran materi operasi hitung campuran. Dari hasil siklus tersebut diharapkan terjadi peningkatan siknifikan pada hasil belajar siswa. Artinya bahwa penerapan media PATUNG dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi operasi hitung campuran siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara. 7. Hipotesis Tindakan Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah Pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran dengan menggunakan media pembelajaran PATUNG dapat meningkatkan hasil belajar siswa. I. Metodologi Penelitian 1. Setting Penelitiana. Subjek Penelitian Subjek yang akan diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas IV SD N 2 Kembang Jepara yang berjumlah 14 Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV SD N 2 Kembang yang beralamat di Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 minggu, yaitu pada tanggal 8 Februari 2016 sampai dengan tanggal 20 Februari Prosedur Penelitian Prosedur penelitian adalah langkah-langkah atau cara yang harus dilakukan secara teratur dan sistematis oleh peneliti untuk mencapai tujuan-tujuan penelitiannya. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk siklus yang berulang yang di dalamnya terdapat empat tahapan utama yaitu a perencanaan, b tindakan, c pengamatan, dan d refleksi. Perencanaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk membuat rencana yang akan dijadikan acuan dalam melakukan tindakan. Pelaksanaan tindakan adalah aktifitas yang dilakukan oleh guru berdasarkan pada rancangan atau rencana yang telah disusun. Pengamatan adalah tindakan yang dilakukan guru untuk mengamati dan mencatat hal-hal yang diperlukan dan terjadi dalam proses pelaksanaan tindakan berlangsung. Refleksi adalah proses untuk melihat kembali atau mengulas kembali tentang perubahan yang terjadi pada proses tindakan yang telah dilakukan. Untuk lebih jelasnya digambarkan pada gamabr berikut ini a. Sikuls 1 1 Perencanaan tindakan I Agar pelaksanaan tindakan dapat berjalan dengan lancar serta perubahan akibat tindakan dapat direkam dengan baik maka dalam perencanaan ini harus disiapkan dengan lengkap. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut a Merancang program pelaksanaan pembelajaran yang konsisten dengan metode atau model yang akan dilakukan RPP. b Menyusun lembar observasi aktivitas siswa. c Merancang dan menyiapkan media atau alat pelajaran yang akan digunakan. d Menyusun instrumen evaluasi dan uji instrumen. 2 Pelaksanaan tindakan I Pada tahapan ini rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan RPP yang telah disusun. 3 Pengamatan/Pengumpulan data I Tahapan ini terkait dengan pelaksanaan tindakan kelas. Kegiatan ini dengan menggunakan lembar observasi yang meliputi aktivitas siswa serta hasil belajar. 4 Refleksi I Tahapan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Kegiatan yang dilakukan adalah analisis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan. Hasil refleksi digunakan untuk dasar perbaikan dalam menyusun perencanaan pada siklus berikutnya. b. Siklus 2 1 Perencanaan tindakan II Agar pelaksanaan tindakan dapat berjalan dengan lancar serta perubahan akibat tindakan dapat direkam dengan baik maka dalam perencanaan ini harus disiapkan dengan lengkap. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut a Merancang program pelaksanaan pembelajaran yang konsisten dengan metode atau model yang akan dilakukan RPP. b Menyusun lembar observasi akivitas siswa. c Merancang dan menyiapkan media atau alat pelajaran yang akan digunakan. d Menyusun instrumen evaluasi dan uji instrumen. 2 Pelaksanaan tindakan II Pada tahapan ini rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan RPP yang telah disusun. 3 Pengamatan/Pengumpulan data II Tahapan ini terkait dengan pelaksanaan tindakan kelas. Kegiatan ini dengan menggunakan lembar observasi yang meliputi aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. 4 Refleksi II Tahapan refleksi ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Kegiatan yang dilakukan adalah analisis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. 3. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan daftar siswa kelas IV, jumlah siswa kelas IV, baik laki-laki maupun perempuan, dan daftar nilai siswa kelas IV. b. Tes Tes dilakukan setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV khususnya untuk peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan media PATUNG . Data hasil belajar siswa ini didapat dari hasil evaluasi setiap akhir siklusnya. c. Pengamatan observasi Pengamatan betujuan untuk memperoleh data tentang proses berlangsungnya belajar mengajar yang meliputi aktivitas siswa, suasana atau situasi belajar siswa. Instrumen Penelitian Sebelum dilaksanakannya PTK, maka disusun berbagai instrumen terlebih dahulu yang akan digunakan pada saat dilakukannya PTK yaitu sebagai berikut a. Membuat input instrumental yang digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK, yaitu menyusun RPP dan juga menyusun perangkat pembelajaran berupa lembar pengamatan. b. Membuat output instrumental yang digunakan untuk menganalisis data setelah memberi perlakuan PTK, instrumennya adalah butir tes. Langkah-langkah yang dilakukan sebelum menyusun instrumen penelitian diantaranya adalah sebagai berikut 1 Menyusun kisi-kisi Tujuan penyusunan kisi-kisi tes adalah untuk menjaga agar tes yang akan disusun sesuai dengan materi. 2 Menentukan tipe tes Tipe tes yang digunakan adalah pilihan ganda. 3 Menentukan jumlah soal Jumlah yang digunakan untuk uji coba sebanyak 25 soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 30 menit. 4. Teknik Analisis Data a. Analisis Instrumen Penelitian Data dalam penelitian ini, dikumpulkan melalui catatan harian dan pengamatan guru. Setelah instrumen diujicobakan kemudian dianalisis, untuk mendapatkan soal yang baik dan memenuhi kriteria. Menganalisa hasil tes ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut 1 Validitas Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman Arikunto, 200965. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment dengan angka kasar, yaitu Sebuah tes dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor tiap butir soal menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa sebuah butir soal memiliki validitas yang tinggi jika skor pada tiap butir soal mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas tiap butir soal digunakan rumus korelasi tersebut di atas. Dengan berkonsultasi ke tabek harga kritik r product moment sehingga dapat diketahui signifikan tidaknya korelasi tersebut. Jika harga rXY> rtabel maka korelasi tersebut signifikan atau valid, dan sebaliknya Arikunto, 2009 75. Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk butir soal biasa diberikan dengan 1 bagi soal yang dijawab benar dan 0 bagi soal yang dijawab salah, sedangkan skor total selanjutnya didapat dari jumlah keseluruhan skor untuk semua butir soalnya. 2 Reliabilitas Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap. Arti tetap tidak selalu harus sama, tetapi mengikuti perubahan secara ajeg yaitu sama dalam kedudukan siswa di antara anggota kelompok yang lain Arikunto, 200986. Analisis realibilitas tes pilihan ganda menggunakan rumus K-R. 20, yaitu Setelah diperoleh harga kemudian dibandingkan dengan produk moment dengan =5%. Instrumen dikatakan reliabel jika 3 Taraf kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagiArikunto, 2009 207. Untuk menghitung besarnya indeks kesukaran tiap butir soal, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut Arikunto 2009210 mengatakan bahwa indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut 0 < P ≤ 0,3 sukar 0,3< P ≤ 0,7 sedang 0,7< P ≤ 1,0 mudah 4 Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai berkemampuan tinggi dengan siswa yang kurang pandai berkemampuan rendah Arikunto, 2009211.Cara menentukan daya pembeda yaitu dengan rumus sebagai berikut Klasifikasi daya beda adalahArikunto, 2009218 D 0,00 – 0,20 = jelek poor D 0,20 – 0,40 = cukup satisfactory D 0,40 – 0,70 = baik good D 0,70 – 1,00 = baik sekali exellent b. Analisis Data. Teknik analisis data yang digunakan perlu dikemukakan secara jelas dan rinci sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan pada saat dilakukannya kegiatan observasi. 1 Data hasil belajar siswa Data mengenai hasil belajar diambil dari kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. a Menghitung nilai rata-rata Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata yaitu 5. Indikator Keberhasilan Sebagai tolak ukur keberhasilan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut a. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan nilai rata-rata kelas ≥ 70, ketuntasan belajar individu mencapai ≥ 70% dan ketuntasan belajar klasikal mencapai ≥ 70% b. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat dengan kriteria tinggi dan mencapai persentase ≥ 75% DAFTAR PUSTAKA Arief dkk. 2009. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta Rajawali Pers. . Arikunto, Evaluasi Aksara. Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta PT Raja Grafindo Persada. Daryanto. 2012. Media Pembelajaran. Bandung Satu Nusa. Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dimyati dan dan Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Rineka Cipta. Hernawan, Asep Herry, Pembelajaran sekolah PRESS. Marifah, Hermin. Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Perkalian Bersusun Ke Bawah dengan Media Papan Napier Pada Pembelajaran Matematika Bagi Siswa Kelas III SD Dapuan Surabaya. diakses pada 24 Mei 2016. Purwanto, 2013. Prnsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung PT. Remaja Rosdakarya. Rusman. 2015. PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU Teori Praktik dan Penilaian. Jakarta PT RAJA GRAFINDO PERSADA. dan Faktor-faktor yang Cipta. Suprijono, LearningTeori&Aplikasi PAIKEM. YogyakartaPustaka Belajar. Walgito, Psikologi Baca Juga Contoh Proposal PTK SD Kelas 4 Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Pendekatan Matematika RealisticContoh penelitian Tidakan Kelas PAUD Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 TahunContoh proposal penelitian Tindakan Kelas PTK Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Media PatungDownload PTK SD Lengkap Kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6 Dengan Sekali KLIKContoh PTK Peningkatan Hasil Belajar Proposal Penelitian PTK ini ditulis oleh Guru SD yaitu Toni Eko Nugroho.

contoh analisis masalah dalam ptk